
JAKARTA - Setelah menjadi korban berbagai fitnah dan isu negatif, kini calon presiden dari Partai Gerindra, Prabowo Subianto diserang lagi dengan kampanye hitam soal rekam jejak saat bertugas di Timor Timur.
Mantan Danjen Koppasus itu dituding melakukan pelanggaran hak asasi manusia yang dikenal sebagai peristiwa Krakas, padahal faktanya adalah pahlawan yang menyelamatkan banyak warga Timor Timur.
"Sangat luar biasa dahsyat serangan kampanye hitam terhadap personal Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra ini. Semua fakta diputarbalikkan secara profesional sehingga menjadi fitnah," kata Budi Purnomo Karjodihardjo, Koordinator Prabowo Media Center dalam pesan elektroniknya, Senin (7/4/2014).
Budi menjelaskan, mengenai peristiwa Krakas ini masih dapat dikonfirmasikan kepada saksi hidup kejadian itu, ada tokoh agama Father Locatelli yang sudah membantah tuduhan keterkaitan Prabowo dengan peristiwa Krakas.
Bukan hanya Locatelli, Tamalia Alisjahbana, mantan Direktur Eksekutif Gedung Arsip Nasional juga pernah mengutip hasil investigasi sejarah mengenai peristiwa Krakas.
Dalam artikel berjudul 'What really happened in Kraras?' yang diterbikan harian The Jakarta Post, Tamalia menulis, pada tahun 1998, Tamalia bersama jurnalis Amerika dari Baltimore Sun, Frank Langfitt pergi ke Timor Timur untuk mencari tahu kebenaran kisah kampung janda. Sebelum berangkat, Tamalia bertemu dengan Xanana di penjara Cipinang. Xanana memberikan rekomendasi kepada Tamalia untuk bertemu seorang tokoh pergerakan Timor Timur bernama Sister Marlene di Dili.
Sister Marlene mengatakan memang Prabowo adalah orang yang paling sering dituduh bertanggung jawab atas peristiwa Krakas, namun faktanya tidak demikian. "Namun jika engkau ingin tahu persis, tanyakanlah kepada Father Locatelli yang warga Krakas" ujar Suster Marlene kepada Tamalia waktu itu.
Kemudian tokoh agama Father Locatelli membuat pengakuan bahwa dirinya sering menjadi 'penyampai pesan' antara Prabowo dengan pimpinan gerakan separatis di tahun 1983. Father Locatelli mengatakan, waktu itu dia (Prabowo) masih seorang dengan jabatan rendah, namun sudah banyak yang tidak suka dengan apa yang ia lakukan.
Saat dikonfirmasi soal tudingan keterkaitan Prabowo dengan kejadian Krakas, Tamalia menyaksikan Father Locatelli kaget. "Tidak, itu tidak berhubungan sama sekali dengannya. Dia (Prabowo) saat kejadian masih berada di gunung, jauh dari tempat kejadian," ungkap Father Locatelli.
Menurut Locatelli, kejadian Krakas dilakukan oleh pasukan lain, bukan pasukan pimpinan Prabowo. Malahan, setelah kejadian terjadi, Prabowo dianggap berhasil menyelamatkan beberapa orang Krakas yang ditahan (oleh pasukan lain) dan akan dibunuh. Untuk jasa Prabowo itu mereka mengadakan upacara kecil, sebagai ungkapan tanda terima kasih.
"Prabowo dianggap pahlawan di sana, karena dianggap menyelamatkan banyak warga Krakas. Itulah kejadian yang sebenarnya," kata Budi Purnomo.
Pihaknya juga mempersilakan pihak-pihak yang melakukan pembunuhan karakter untuk bertanya langsung kepada sejumlah saksi hidup yang berkompeten.
Seperti diketahui, pada 21 Maret 2014, salah satu media online Satutimur.com, mengulas soal keterlibatan Prabowo dalam tragedi Krakas.
Bagikan Untuk Kebaikan
