Pacal
merupakan sebuah relief yang ditemukan di Mexico pada tahun 1949 oleh
Alberto Ruz. Pada awalnya Alberto menemukan suatu ruang lengkung di
bawah tanah dari suatu candi prasasti, ia kemudian menemukan suatu
relief yang aneh yang menjadi tanda tanya besar para ahli hingga kini.
Inilah penggambaran astronot suku maya.

Dalam relief itu digambarkan struktur seseorang seperti sedang berada di
dalam sebuah kapal terbang. Setiap detik demi detik akan membuat Anda
tegang, sama seperti saya yang sudah tegang duluan ketika menyaksikan
bagaimana konstruksi kuno itu akan membawa seseorang untuk terbang.
Ditulis oleh Erich von Daniken, dalam bukunya : In Search of Ancient Gods
Sebuah kisah kuno bangsa Maya mengatakan, bahwa 10.000 tahun yang lalu
mereka berada pada peradaban puncak. Walaupun para ahli purbakala
meragukan kebenaran “waktu 10.000 tahun yang lalu” itu di dalam tulisan
mereka, namun penulis tetap menganggapnya sebagai sesuatu yang sangat
penting, sebab tidak ada seorangpun yang dapat menjelaskan, dari mana
asal bangsa Maya itu dan kemudian kemana perginya mereka.

Sebab telah dibuktikan, bahwa kota-kota bangsa Maya tidak dihancurkan
oleh peperangan atau bencana-bencana alam. Kota-kota itu dengan demikian
telah ditinggalkan oleh para penduduknya. Bangsa Maya telah lenyap
tanpa bekas. Mengapa mereka telah meninggalkan kota-kota mereka yang
hebat, yang telah mereka bangun “untuk bertahan sepanjang masa” dengan
balok-balok yang utuh?
Diakui, bahwa apa yang disebut zaman “sebelum zaman kuno” berada
diantara 1000-2000 tahun sebelum Masehi. Akan tetapi, dalam hal ini
diakui oleh para sarjana, mereka sebenarnya tidak mengetahui apa-pun
mengenai “zaman purbakala “ yang sebenarnya, yang mendahului “zaman
sebelum zaman kuno”. Dan adalah sangat besar kemungkinannya, bahwa semua
“kejadian nyata” dalam sejarah yang hingga kini belum dapat
diketemukan, ada dalam buku-buku yang telah dibakar oleh uskup Landa.
Hanya ada tiga buku kuno tulisan tangan dari bangsa Maya yang tidak ikut
terbakar; lembarannya dibuat dari kulit pohon dan dilipat-lipat seperti
harmonica. Buku-buku itu disebut menurut nama tempat, dimana
masing-masingnya disimpan : Dresdensis Codex (Codex = buku kuno dalam
tulisan tangan ), Paris Codex, dan Madrid Codex, yang juga dikenal
sebagai Tro-Cortesianus.
Tulisan-tulisannya yang sudah berwarna kuning karena tua, masih belum
sungguh-sungguh dapat dimengerti. Yang telah dapat dipecahkan adalah
“system menurut nomer” mereka yang sangat baik, akan tetapi sederhana.
Sahabat anehdidunia.com mereka menghitung dengan goresan-goresan, yang
diberi titik-titik di atasnya. Satu titik sama dengan 1, tiga titik
dengan 3, dst nya. Angka 5 digambarkan dengan sebuah goresan, sehingga
angka 7 menjadi sebuah goresan ditambah dua titik diatasnya.

Bangsa Maya pun mengetahui nilai-nilai nisbi dan nol. Mereka menggunakan
system “vigesima”, atas dasar 20. Kalau mereka ingin menulis bilangan
23, maka mereka menaruh tiga titik di tempat “satuan” dan satu goresan
di tempat “duapuluh”. Mudahlah untuk membedakan “goresan dua puluh” dari
“goresan limaan”. Goresan dua puluhan diberi tempat jauh lebih tinggi
daripada tempat goresan limaan.
Kalender bangsa Maya mempunyai kualitas yang amat tinggi. Tanggal
permulaan urutan waktu mereka adalah suatu hari dalam tahun 3113 sebelum
Masehi. Para ahli dari Amerika selatan menyatakan, bahwa tahun gaib
3113 sebelum Masehi itu tidak ada hitungannya dengan sejarah yang
sebenarnya dari bangsa Maya, akan tetapi hanya mempunyai nilai asli
“simbolis” seperti ucapan bangsa Yahudi “sejak diciptakannya dunia”.
Bagaimanakah mereka dapat mengatakan itu secara demikian pasti, kalau
kita tidak mengetahui dari mana asal datangnya orang Maya itu dan kemana
pergi lenyapnya mereka. Sangat banyaklah sudah tulisan-tulisan mengenai
kalender bangsa Maya itu. Suatu kenyataan adalah kalender itu
menggunakan system putaran-putaran tahun yang setiap putarannya
berjangka waktu 374,000 tahun.
Bangunan-bangunan didirikan menurut kalendernya : Untuk tiap hari selama
sebulan sebuah anak tangga, untuk tiap bulannya sebuah mimbar, dan
akhirnya pada hari yang ke 365, berdirilah sudah tempat berhala itu.
Seakan-akan bangsa Maya dari kerajaan kuno itu membuat bangunan-bangunan
keagamaan mereka bukan oleh terdorong pada suatu kebutuhan kepercayaan,
melainkan karena kalender memaksakan mereka sebagai kewajiban yang
harus mereka penuhi.
Observatorium para ahli perbintangan mereka, sebuah bangunan bundar di
atas dua teras raksasa yang menjulang tinggi di atas hutan belukar,
terletak di Chichen Itza. Para ahli perbintangan bangsa Maya mengetahui
orbit bulan, sampai pada empat desimal dan mereka juga dapat menghitung
tahun planet Venus sampai pada sampai pada tiga desimal.
Menurut cerita kuno, para dewa permulaan dari bangsa Maya berasal dari
bintang-bintang, mengadakan hubungan dengan bumi, dan kemudian kembali
lagi ke bintang-bintang. Dalam “ Popol Vuh ”, sebuah cerita kuno bangsa
Maya, dikemukakan 4000 orang pemuda dari cakrawala, kembali ke “ bintang
tujuh “, setelah mereka menderita kekalahan dalam perkelahian dengan
manusia.
Dewa Kukulkan rupanya betukar berita dengan bangsa Aztec, yang bernama
Quetzalcoatl. Dia digambarkan sebagai seekor ular yang berbulu dan
datang dari langit. Kalau orang-orang bangsa Maya, dalam hidupnya setiap
hari melihat ular-ular merayap di tanah, maka sulitlah untuk
dimengerti, mengapa ular-ular dalam gambaran dan relief mereka dapat
“terbang ”?
Tulisan-tulisan bangsa Maya yang masih ada, meliputi 208 halaman yang
dilipat menurut cara harmonica. Melihat banyak macamnya tanda-tanda,
bentuk-bentuk, lambang-lambang, serta bentuk kombinasi, maka tidaklah
mengherankan kalau sampai sekarang hanya sedikit yang dapat dipecahkan
artinya.
Lukisan-lukisan pada serat pohon yang diberi lapisan tipis dari kapur
sebagai landasan lukisannya, disimpan antara dua lembaran kaca. “Dresden
Codex” mempunyai 74 halaman, dan berisi perhitungan mengenai
perbintangan dan juga berisi daftar-daftar mengenai perjalanan serta
gerak bulan dan planet Mars.
Pada lukisan-lukisan itu selalu terlihat adanya makhluk mengerikan yang
berbentuk seperti ular di dekat bilangan-bilangan. Makhluk itu
dihubungkan dengan bulan dan memuntahkan air ke bumi. Makhluk “manusia”
nya mengenakan kedok dan perlengkapan kepala yang rumit, dan seringkali
kelihatannya mengenakan semacam pakaian selam.
Apakah mereka itu para pendeta bangsa Maya yang sedang melakukan
percobaan-percobaan ataukah binatang-binatang? Makhluk-makhluk yang
tidak dapat ditentukan makhluk, apa sebenarnya, dengan menggunakan
banyak peralatan yang aneh-aneh.
“Paris Codex” dibeli oleh “Bibliotheque Nationable” (Perpustakaan
Nasional) di tahun 1832 dari koleksi seseorang. Dibuat dari bahan yang
sama dengan bahan “Dresden Codex” dan mempunyai 22 halaman yang sudah
sangat rusak.
Dalam abad terakhir ini, pemeliharaan terhadap halaman-halaman yang
dilipat-lipat itu adalah demikian jeleknya, sehingga kini hanya tinggal
dua halaman saja yang dapat dipertunjukkan dalam sebuah kotak dari kaca.
Untungnya bagi kita, bahwa dari “Paris Codex” terutama berisi
ramalan-ramalan menurut kalender. “Madrid Codex” disimpan di “Museo de
America” di Madrid dan terdiri dari 112 halaman bergambar, dimana dapat
terlihat gambar dewa-dewa dalam sikap upacara keagamaan yang besar.
Gambar-gambar dan bagian-bagiannya, sampai yang kecil-kecil adalah
sangat menarik. Kita dapat melihat segala macam benda dalam
gambar-gambar tersebut.
Dewa-dewa berasap pada kulit bumi, dewa-dewa sebelum makan pembuluh
darah, hukuman dengan tusukan pada lidah, seorang dewi dengan kepala
ular pada roda pemintal. Penulis telah mengkopi bagian-bagian dari
buku-buku itu, yang sebenarnya hanya diketahui oleh para ahli-ahli saja,
sehingga setiap orang yang berpengetahuan dan mempunyai perhatian
terhadap persoalan ini, dapat menilai sendiri apa yang benar-benar
digambar. Penulis mempunyai dugaan, bahwa orang awam akan merumuskan
gagasan-gagasannya secara lebih bebas, daripada seorang ahli bangsa
Maya.

Selama penyelidikan-penyelidikannya di lapangan dari tahun 1949 sampai
1952, seorang ahli purbakala bangsa Mexico bernama Alberto Ruz Lhuiller
menemukan sebuah kamar penyimpanan jenazah di “Kuil naskah tulisan
tangan” di Palenque.
Dari kamar depan kuil yang berada di mimbar tertinggi sebuah piramida
bertangga, terdapat sebuah bordes yang miring agak curam dan licin
karena kelembaban udara, yang menjurus ke bawah sampai hampir 75 kaki
dan berakhir sampai 6 kaki dibawah tanah.
Tangganya disembunyikan sedemikian rupa, sehingga dapat kita tarik
kesimpulan, bahwa tangga itu tadinya pasti dirahasiakan. Ukuran dan
letak kamar itu cocok dengan “pengertian tentang ilmu gaib “ (Marcel
Brion). Para ahli purbakala beserta pembantu-pembantunya membutuhkan
waktu tiga tahun untuk membersihkan tangga itu, dari puncak sampai ke
dasarnya.
Lantai ruangan itu terbuatdari satu batu utuh yang berukuran panjang 14
kaki dan lebar 7 kaki, dengan gambar relief yang luar biasa. Penulis
belum pernah melihat sebuah relief lainnnya, yang demikian indah dan
cermat pembuatannya. Ukiran-ukiran bangsa Maya terdapat di sekitar
sudut-sudut permukaan yang datar itu, akan tetapi hanya sangat sedikit
dari ukiran-ukiran itu yang dapat dipecahkan artinya.

Batu datarnya dihias dengan ukiran-ukiran tulisan seperti yang terdapat
di Dresden Paris dan Madrid Codex. Dalam gambar-gambar itu dapat kita
lihat sebuah wujud dewa bumi, dengan hiasan-hiasan bulu di dadanya,
tali-tali dan pipa-pipa dari dari batu berwarna dan tidak ketinggalan
pula seekor burung yang dianggap suci (burung Kwitzel dari Amerika
tengah).
Paul Rivet, salah seorang dari kelompok ahli-ahli purbakala yang telah
menemukan kamar jenazah dalam kuil di Palenque itu berkata, bahwa orang
Indiannya digambarkan sedang duduk di altar pengorbanan dan di belakang
tempat duduknya terukir rambut jenggot Dewa Cuaca, motif-motif yang
selalu timbul kembali di kota-kota Maya.
Di bawah batu utuh yang dihias secara indah itu, terdapat sebuah
kerangka dalam sebuah peti mati yang dicat merah. Sebuah kedok emas
menutupi muka kerangka; beberapa butir batu pertama terdapat di sebelah
kerangka, seakan-akan merupakan benda-benda upacara keagamaan dan benda
benda yang dikorbankan.
Sejak penulis melihat batu kuburan di Palengue itu, maka penulis
menafsirkan dan merumuskannya dalam istilah-istilah tekhnik. Tidaklah
menjadi persoalan, apakah kita menggunakan sudut pandang ini ataukah
itu, tetapi penulis berfirasat, ada petualang-petualang ruang angkasa
tersangkut di dalam misteri ini.

Potret-potret terbaik yang pernah penulis lihat mengenai batu kuburan,
yang berada di belakang pintu besi yang terkunci itu, adalah hasil
pemotretan dari para pemotret film “Kereta-kereta perang para Dewa kah?”
“Setelah delapan kali mengajukan permohonan, maka Pemerintah mengizinkan
kami untuk kerja selama setengah jam dengan menggunakan kamera dan
lampu-lampu sorot. Potret-potret ini akan memberikan gambaran yang lebih
baik kepada para pembaca, mengenai persoalan yang penulis bicarakan
dari gambar-gambar dalam buku penulis yang pertama.
Akhirnya, dari kesemuanya itu menujukkan, bahwa batu kuburan itu
merupakan sebuah kerangka yang di tengah-tengahnya terdapat makhuk, yang
duduk agak membongkok kedepan (seperti seorang Astronaut di dalam module komandonya).
Makhluk asing itu mengenakan sebuah topi helm, dari bagian belakang topi
helm itu mencuat keluar dua batang pipa. Di depan hidungnya terdapat
aparat oxygen. Makhluk itu sedang mengerjakan alat semacam tombol
pengamatan dengan kedua tangannya.
Jari-jari yang sebelah atas disusun, seakan-akan makhluk itu sedang
menyetel sebuah tombol yang ada di depannya. Kita melihat dari arah
belakang, empat jari dari tangannya yang sebelah bawah, jari
kelingkingnya bengkok. Apakah makhluk itu tidak kelihatan seperti sedang
mengerjakan alat pengontrol seperti yang terdapat pada stang sepeda
motor?
Tumit kaki kirinya berada di atas pedal bertangga. Yang melihat relief
di Palengue itu akan heran melihat kenyataan, bahwa “orang Indian yang
berada di atas altar pengorbanan” itu mengenakan pakaian yang sangat
modern.
Tepat di bawah dagunya terdapat semacam leher gulung sebuah kemeja wol.
Bajunya yang sempit mempunyai lengan baju, yang ujungnya pada
pergelangan tangan dilipat ke atas. Dia menggunakan pengikat pada
pergelangan tangan, dilipat ke atas. Dia menggunakan ikat pinggang
lebar, dan mengenakan celana panjang, yang bagian atasnya lebar dan
bercorak seperti mata jala, sedangkan bagian bawahnya, mulai dari
sedikit di atas lutut sampai terus di pergelangan kaki sempit. Di
pergelangan kakinya terlihat bagian pakaian seperti kaos kaki. Apa ini
tidak menyerupai pakaian lengkap bagi seorang astronaut?

Peralatan di dalamnya dimana si petualang ruang angkasa itu sedang duduk
meringkuk dengan kaku, menunjukkan ciri-ciri teknis sebagai peralatan
untuk sebuah perjalanan menuju ke ruang angkasa.