Selamat Datang Di Situs Jasa Adsense Resmi Indonesia
Home » » DARI OFU UNTUK SEPAKBOLA INDONESIA

DARI OFU UNTUK SEPAKBOLA INDONESIA

YAYASAN TANGAN PENGHARAPAN

Desa Ofu masuk adopsi Foundation Tangan Pengharapan, Foundation ini membantu anak-anak di Ofu dalam hal makan brgizi, setiap hari anak-anak di Ofu diberikan makanan bergizi, ayam, telur, ikan dll. dan anak-anak di Ofu jarang makan makanan bergizi, mereka hanya makan jagung bose (bubur jagung). Ketika 1000_guru datang ke Ofu, ada lapangan dibelakang tempat pembagian makanan bergizi setiap hari ini, akhirnya bekerjasama dengan Tangan Pengharapan untuk membina Sepakbola anak-anak di Ofu. Pada kerjasama ini, Tangan Pengharapan memberikan makanan bergizi, pendidikan (les), dan pengajaran moral, sedangkan 1000_guru dan FDSI mengembangkan sepakbola anak-anak di Ofu. Anak-anak yang masuk dalam SSB YTP Ofu adalah anak-anak yang ikut juga dalam program makanan bergizi Tangan Pengharapan. Jadi mereka mendapatkan komplet, sepakbola, pendidikan dan perbaikan gizi.

DARI OFU UNTUK SEPAKBOLA INDONESIA

Ofu,sebuah nama desa yang bukan? Ya memang desa ini memang aneh, bukan aneh karena banyak setan atau hal-hal mistis lainnya, tapi aneh karena pembangunan tidak cukup merata di desa ini. Untuk mencapai desa Ofu, diperlukan perjalanan 3 jam dari kupang menuju kota soe, lalu 2 jam menuju desa Ofu. Jalanan menuju desa Ofu cukup berat, melewati jalanan yang rusak parah dan beberapa bukit yang longsor. Kebanyakan anak-anak di NTT hanya suka bermain bola volley, tanpa net, hanya tali rapia sebagai net pembatas ditengah-tengah lapangan. Kenapa mereka suka dengan bola volley, karena dengan bermain bola volley mereka tak membutuhkan lapangan yang besar.

Dari Ofu untuk sepakbola Indonesia

Bagaimana dengan sepakbola? Tanah yang berbukit-bukit jarang ditemukan lapangan besar untuk anak-anak bermain sepakbola. Sepanjang perjalanan menuju desa Ofu, saya tak menemukan lapangan sepakbola. Hanya bukit dan bukit.

2 jam perjalanan, saya pun sampai ke sebuah desa yang terletak diatas bukit dan ketinggian, dingin, kering serta berbatu, Desa Ofu namanya. Saya disambut oleh Ibu An dan bapak Remmy. Suami istri yang mendedikasikan hidupnya untuk masyarakat di desa Ofu. Hampir 6 tahun sepasang suami istri ini tinggal didesa Ofu, meninggalkan kampung halaman mereka di Kisar Maluku Tenggara.

Istrinya, Ibu An, adalah salah satu pemimpin agama di desa Ofu, sedangkan Pak Remmy adalah guru di sekolah menengah kejuruan bidang perikanan di lepas pantai Kolbano NTT.

Sore menjelang, saya asik mengambil beberapa gambar indahnya alam Ofu, bukit menjulang tinggi disinari matahari sore, rasanya tak ingin kembali ke ke Jakarta. Tiba-tiba terdengar suara anak-anak dibelakang rumah pak Remmy, anak-anak yang sedang bergembira bermain sepakbola. Tak ada gawang, hanya tumpukan batu serta bola plastik yang sekali tendang kempes ditengah karena bocor. Tapi semua itu tak membuat mereka patah semangat dan ceria bermain sepakbola, maklum tak ada hiburan lagi didesa ini kecuali bermain sepakbola. Mengapa tak ada hiburan? Ya, didesa Ofu tak ada listrik, tak ada mall, tak ada penyewaan playstation, jangankan listrik, sinyal handphone pun tak ada. Hanya satu dua rumah saja yang punya televisi. Jangan heran bila berkunjung ke desa Ofu pada pukul 8 malam desa ini sunyi, anak-anak semua masuk kerumah dan bermimpi digelapnya malam.

Mereka masih asik bermain bola, tak menghiraukan kedatangan saya, hingga akhirnya permainan terhenti ketika bola keluar lapangan dan berhenti tepat didepan saya. “ Suka min sepak bola ko? Tanya saya menyapa mereka – “Suka bapaaa” semua serentak menjawab. “Sonde ada pelatih? Hanya main sendiri sa? “ Tanya saya kembali, “Tidak ada bapa, kami hanya main bola sa, setiap hari main bola ..” jawab mereka. Mereka bermain diatas rumput yang mulai kering dan banyak batu-batu kecil, anehnya mereka tak pakai sepatu bola, hanya dengan kaki telanjang. Tak ada pelatih, tak ada kostum dan tak menggunakan bola standar, hanya ala kadarnya.

Bola, sepatu dan kostum adalah barang yang mahal bagi anak-anak ini, karena orang tua mereka rata-rata hanya petani dengan penghasilan 400 ribu sebulan, kadang malah 200 ribu. Tak heran bila mereka tak mampu membeli sepatu bola untuk melindungi kaki mereka ketika bermain bola. Melihat mereka, teringat dengan anak-anak Timor Leste, tetangga mereka, yang notabene satu rumpun dengan anak-anak Ofu ini, yang kini dapat menahan imbang Timnas Indonesia. Mereka, anak-anak Ofu ini pasti punya kemampuan sepakbola yang hebat, bila di didik dengan benar dalam permainan sepakbola mereka, niscaya mereka akan menjadi Yabes-yabes baru dimasa yang akan datang, yang akan mengharumkan nama Indonesia di kancah sepakbola internasional. Sebuah desa kecil untuk sepakbola Indonesia.
Bagikan Untuk Kebaikan
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Comments
0 Comments

0 komentar... read them below or add one

Spoiler Untuk lihat komentar yang masuk:

Post a Comment

AiRa LoKa - Blog of tutorials